Showing posts with label Siraman rohani. Show all posts
Showing posts with label Siraman rohani. Show all posts

Saturday, July 10, 2010

Kisah Para Sahabat : 'Ammar bin Yasir

Kehidupan keluarga Yasir adalah kehidupan sebuah keluarga yang sangat harmonis dan utuh dalam keimanannya kepada Allah SWT.Sampai-sampai para sahabat melukiskan kehidupan keluarga ini dengan menyatakan: ""Jika saja ada manusia-manusia yang
dilahirkan dan dibesarkan di Syurga lalu mereka diturunkan untuk menghiasi dan menerangi alam dunia, maka manusia itu di antaranya pasti adalah keluarga
Yasir". Ungkapan para sahabat ini menunjukkan betapa sangat luar biasa mereka melihat
keluarga Yasir ini sebagai keluarga yang memang patut untuk berada di Syurga
sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT lewat Rasul-Nya.


Kisah 'Ammar bin Yasir ini diawali dengan suatu ketika Yasir bin 'Amirayahanda 'Ammar meninggalkan Yaman untuk mencari salah seorang saudaranya, namun beliau ternyata tidak berhasil menemukan saudaranya akhirnya beliau terdampar di Mekkah. Tidak berapa lama tinggal di Mekkah beliau bersahabat dengan saudara seiman, Hudzaifah ibnul Mughirah. Sahabat baru inilah yang kemudian menikahkan Yasir
dengan salah seorang budak wanitanya bernama, Sumayyah binti Khayyah, dan dari pernikahan inilah lahirlah putra yang dikenal dalam sejarah bernama 'Ammar.
'Ammar, begitu pula ayahandanya Yasir dan ibundanya Sumayyah, bersama-sama masuk Islam di hadapan Rasul Saw. Ketiganya termasuk dari golongan pertama yang masuk Islam, karenanya, mereka pernah merasakan bagaimana penderitaan akibat masuk Islam. Di awal Islam berkembang, ummat Islam memang luar biasa menghadapi tekanan-tekanan dari kaum musyrikin. Ada dua sikap yang dilakukan kaum musyrikin terhadap orang yang
menyatakan diri masuk Islam. Pertama, jika yang masuk Islam dari kalangan bangsawan,
biasanya mereka akan mengambil sikap mengecam dan mengancam dengan memutuskan hubungan perniagaan. Kedua, jika yang masuk Islam dari kalangan kebanyakan yakni orang-orang yang tidak memiliki posisi dalam kehidupan masyarakat, apalagi dari kalangan budak, maka mereka akan melakukan berbagai macam siksaan. Intinya mereka akan menghancurkan kehidupan orang-orang yang masuk Islam. Maka keluarga Yasir
termasuk dalam dalam golongan yang kedua ini, dan untuk penyiksaan mereka diserahkan
kepada Bani Makhzum. Setiap hari keluarga Yasir didera dengan berbagai adzab dan
siksa.
Di awal kebangkitan Islam, ummat Islam mengawali kehidupan keislamannya penuh dengan
siksaan seperti halnya keluarga Yasir ini. Adakah hikmah yang bisa kita ambil di balik dari kesemuanya ini? Tentu hal ini untuk memberikan pelajaran akan resiko kita sebagai mu'min, yang selalu siap berjuangan yang pasti menuntut pengorbanan.
Allah SWT berfirman: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)
mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang- orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang- orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang- orang yang dusta" (QS. Al 'Ankabuut, 29: 2-3) .
Di dalam QS. Ali Imran ayat 142
Allah SWT menyatakan: "Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk syurga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata orang- orang yang sabar" . Juga dalam firman-Nya: "Apakah kalian mengira bahwa kalian akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang- orang yang berjihad di antara kalian dan tidak mengambil menjadi teman yang
setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang- orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan" (QS. At Taubah, 9:16) . Juga bisa disimak surah Ali Imran ayat 166 dan 179. Pengorbanan merupakan esensi dari keimanan seseorang, maka keluarga Yasir merupakan tiga tokoh yang menjadi contoh bagi kita betapa mahalnya nilai syurga. Mereka harus menebusnya dengan penderitan yang hampir tak tertahankan, bahkan Rasul pun terasa tersayat-sayat hatinya jika menyaksikan penderitaan mereka sementara beliau belum mampu berbuat banyak untuk menolong
mereka. Hingga suatu ketika Rasul Saw lewat di depan 'Ammar, lalu 'Ammar berkata: "Ya
Rasulullah, sungguh kami benar-benar mendapatkan siksaan pada puncaknya yang tak
tertahankan lagi". Lalu Rasul Saw memeluk 'Ammar, sambil berkata di di depan ayah dan ibundanya: "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesusungguhnya Allah menjanjikan syurga untuk kalian". Ini merupakan salah satu mu'jizat yang menunjukkan Kemahabenaran Allah lewat Rasul-Nya, karena mungkin saja tiba-tiba keluarga Yasir ini
berbalik menjadi kafir, atau salah seorang tiba-tiba berbalik menjadi kufur karena tidak tahan dengan siksaan, maka semua orang tidak akan percaya lagi kepada Rasul, padahal Rasul telah menyatakan bahwa keluarga Yasir semua ahli syurga.Hal ini perlu digarisbawahi bahwa Rasul tidak mungkin menyatakan sesuatu dalam urusan seperti ini
kecuali berdasarkan wahyu Allah SWT, dan ketiga-tiganya Yasir, Sumayyah dan 'Ammar semuanya wafat dalam keimanan dan keislaman. Perihal siksaan yang pernah
mereka rasakan ini dikisahkan oleh beberapa sahabat di antaranya, 'Amar bin Hakam
yang menyatakan: " 'Ammar itu pernah disiksa sampai la tidak menyadari lagi apa yang
diucapkan". Seorang sahabat yang lain, 'Ammar bin Maimun,berkata: "Suatu ketika orang-orang musyrikin sudah kesal,karena berbagai macam siksaan yang mereka lakukan sama sekali tidak mengubah sikap 'Ammar, akhirnya mereka membakar 'Ammar dengan api",
untunglah saat itu Rasulullah lewat, lalu Rasul Saw memegang kepala 'Ammar sambil berkata dan berdoa kepada Allah: "Hai api, jadilah engkau dingin dan
menyelamatkan bagi 'Ammar sebagamana engkau pernah dingin dan menyelamatkan bagi
Nabi Ibrahim". Sesungguhnya berbagai macam siksaan yang luar biasa yang
dirasakan "Ammar sama sekali tidak mengubah sikap beliau dari menyatakan kalimat tauhid, tapi suatu ketika memang siksaan itu sudah sangat luar biasa beratnya, dia disalib di atas padang pasir, ditindih batu, lalu dimasukkan ke dalam air sambil
terus orang-orang musyrikin yang menyiksanya mengajak "Ammar untuk mengucapkan
keyakinannya kembali pada sesembahan mereka. Sebagaimana kondisi yang digambarkan oleh sahabat, karena siksaan tersebut telah menyebabkan 'Ammar kadang-kadang sudah tidak lagi ingat apa yang telah diucapkannya, dia pun mengikuti ucapan kembali
meyakini tuhan-tuhan yang disembah oleh orang-orang musyrikin. Setelah beliau sadar dan disadarkan bahwa dia sempat mengucapkan kalimat tersebut, barulah kali ini 'Ammar menangis,dia merasa telah melakukan satu perbuatan dosa yang sangat
luar biasa. Ketika Rasulullah Saw dilaporkan oleh para sahabat bahwa 'Ammar terus-menerus menangis meratapi dirinya karena merasa berdosa di hadapan Allah karena lidahnya tanpa sadar menyatakan kembali ke ajaran nenek moyangnya. Rasul pun datang, dengan penuh kasih sayang Rasulullah mengusap air mata dari wajah 'Ammar, beliau mengatakan: Saya dengar orang-orang kafir itu telah menyiksamu sampai kamu tidak sadar lalu mengucapkan ini dan itu". Jawab 'Ammar: "Benar", ya Rasulullah. Rasul pun bersabda sambil tersenyum: "Jika mereka suatu saat datang lagi menyiksamu seperti ini,ucapkanlah dengan sadar sekali pun apa yang tadi kamu ucapkan wahai 'Ammar", lalu
Rasul membacakan firman-Nya:"Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman
(dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)" (QS. An Nahl, 16:106). Mendengar
pernyataan Rasul tersebut,'Ammar yang sekian lama menangis karena meratapi lidahnya yang sempat menyatakan kalimat kekufuran tersebut langsung tersungkur dan sujud syukur di hadapan Allah, karena ternyata keimanannya masih selamat di hadapan Allah SWT. Ketika ummat Islam sudah mulai sedikit menemukan ketentraman dan ketenangan di Madinah,maka 'Ammar termasuk juga yang ikut berhijrah. Rasul Saw tetap sangat luar biasa mencintai tokoh yang satu ini, dan selalu mengingatkan para sahabat yang lain tentang kekuatan iman 'Ammar dan agar menjadikan 'Ammar menjadi teladan. Dalam sabdanya Rasul menyatakan: "Sesungguhnya diri'Ammar itu dipenuhi dengan
keimanan sampai ke belakang tulang-tulangnya". Dan ketika terjadi kesalahpahaman antara Khalid bin Walid dengan 'Ammar, Rasul Saw bersabda:"Barangsiapa yang memusuhi
'Ammar maka dia pasti akan dimusuhi Allah, barangsiapa yang membenci 'Ammar pasti dia a/can dibenci Allah". Mendengar sabda Rasul tersebut, Khalid bin Walid,
pahlawan Islam itu pun lari menuju rumah 'Ammar dan langsung beliau meminta maaf.
'Ammar tidak pernah absen dalam berjuang bersama Rasulullah dalam setiap peperangan, dan ketika Rasul Saw telah tiada pun beliau pun selalu menjadi orang terdepan
dalam memerangi orang-orang musyrikin yang memerangi ummat islam baik di kalangan
Persia maupun Romawi. Dan ketika Umar bin Khathab Ra. menjadi khalifah, maka Umar pun
mengangkat 'Ammar sebagai walikota di Kuffah, dan Ibnu Mas'ud sebagai bendaharawannya. Kedudukan yang tinggi sebagai walikota membuat 'Ammar semakin rendah
diri di hadapan Allah, tawadu, shaleh dan semakin zuhud hidupnya. Ibnu Abil Hudzail,
seorang tokoh di Kuffah yang menyaksikan ini pernah meriwayatkan: "Saya pernah
melihat 'Ammar bin Yasir ketika dia menjadi walikota di Kuffah, pergi ke pasar membeli sayur- mayur untuk keluarganya yang dia ikat di belakang punggungnya dan dibawa sampai ke rumahnya". Suatu ketika ada seorang awam di Kuffah, tiba-tiba tanpa alasan yang jelas mencaci maki 'Ammar, dengan ucapan: "Wahai yang putus telinganya! Menerima cacian tersebut "Ammar yang saat itu sebagai Walikota tidaklah marah, malah beliau sambil tersenyum berkata kepada orang yang menghinanya:
Engkau telah mencaci maki daun telingaku padahal daun telinga itulah yang telah berjuang di jalan Allah, kalau kamu akan mencaci maki, maki-makilah telinga yang satu ini karena dia belum menjadi korban di jalan Allah". Memang daun telinga
'Ammar hanya tinggal sebelah, yang sebelahnya telah hancur ketika dalam perang Yamamah, perang melawan pasukan Musailamah al Khazab, yang mengaku nabi. Saat perang
Yamamah waktu itu ummat Islam sempat terdesak dan mengendor semangat juangnya, sementara "Ammar bin Yasir sebagaimana diriwiyatkan Abdullah bin Umar: "Saya melihat 'Ammar bin Yasir pada perang Yamamah berada di atas batu karang sambil dengan
suara lantang berteriak, wahai kaum muslimin adakah kalian akan lari meninggalkan syurga? Saya, 'Ammar bin Yasir, mari bergabung bersama saya untuk terus memerangi Musailamah sang pendusta ini". Kalimat inilah menurut Abdullah bin Umar yang
kembali membangkitkan semangat umat Islam, di mana Saya saksikan ketika dia
berpidato itu, salah satu daun telinganya sudah hancur beruntai-untai yang menyebakan
dia bangga dengan daun telinga itu". Salah satu kisah lain ketika di Madinah, Rasul mengajak para sahabat membangun masjid di mana Rasul pun terlibat di dalamnya, para sahabat menyaksikan 'Ammar mengangkat batu yang sangat besar, Rasul lalu mengusap kepala 'Ammar dengan tangannya yang mulia sambil berkata: "Aduhai, putra Sumayah, ia kelak akan mati dalam memerangi kelompok pembangkang". Dan ketika salah satu dinding masjid yang sedang dibangun itu , rubuh, para sahabat sudah mengira menimpa tubuh 'Ammar dan mereka pun sudah saling bersama-sama mengkhawatirkan, namun untuk
kedua kalinya Rasul mengatakan: " 'Ammar tidak akan mungkin mati karena tertimpa itu karena dia baru akan mati ketika nanti menghadapi kelompok pembangkang". Singkat kisah, Rasul kembali kehadirat ilahi, diganti Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman, lalu muncullah penggantinya Ali bin Abi thalib Ra. Pada masa kekhalifan Ali inilah terjadi fitnah besar ketika Muawiyyah menentang kekhalifahan Ali. Pada
saat itu telah terjadi ketegangan, sehingga ummat Islam terbagi dalam tiga
kelompok. Pertama, mereka yang tidak mau ikut campur dalam menyikapi kondisi yang terjadi. Kedua yang berpihak kepada Muawiyyah, dan yang ketiga berpihak kepada Ali. 'Ammar bersikap untuk bersama Ali karena Alilah yang secara resmi dibaiat ummat Islam untuk menjadi khalifah. Meletuslah perang Shiffin antara Ali dengan
Muawiyyah. Dan 'Ammar dibarisan terdepan dalam menghadapi pasukan Muawiyyah.
Kisah "Ammar memberikan pelajaran berharga kepada kita, pada usia 93 tahun tidak
menghalangi 'Ammar mengangkat pedang menghadapi perang. Sebelum perang beliau berkata: "Mari kita menghadapi kaum yang mengatakan mereka membela darah Utsman, demi
Allah bahwa mereka sama sekali tidak punya niat seperti itu, tapi mereka telah merasakan nikmatnya dunia, lalu merasa ketagihan dan kini mereka ingin mengambilnya dengan cara yang bathil. Kebenaran sudah mereka bolak-balikkan, orang-orang seperti ini tidak punya hak untuk ditaati oleh ummat Islam dan tidak berhak untuk memperoleh kekuasaan, mereka telah berusaha menipu ummat Islam dengan mengatakan mereka membela darah Utsman, padahal tidak ada yang mereka inginkan kecuali kekuasaan dengan membawa nama Islam. Akhir kisah, suatu ketika sampailah berita kepada ummat
Islam bahwa 'Ammar dalam perang tersebut gugur, maka teringatlah para sahabat dengan
ucapan Rasul: "Aduhai, putra Sumayah, ia kelak akan mati dalam memerangi kelompok
pembangkang". Dengan wafatnya 'Ammar, maka tahulah siapa pembangkang yang dimaksud.

Read More...

Doa adalah senjata

ad-du’a-u silahul mukminiin Artinya :do’a adalah senjata orang beriman. Sahabat...
Ungkapan ini, bukan hanya merupakan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Namun, banyak ayat Al Qur ’an dan juga sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih menjelaskan bahwa ungkapan itu secara makna adalah ungkapan yang shahih. Oleh karena itu, Sahabat, jangan sampai kita melalaikan senjata yang satu ini. Karena tidak semua orang mampu menggunakannya kecuali orang-orang
beriman.


DOA dalam Al Qur’an dan As Sunnah
1. Do’a merupakan perintah dari Allah “Dan Rabb kalian telah berfirman:
“Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian. ” (Ghafir:
60) “Dan berdo’alah kepada Allah dengan mengikhlashkan ibadah (do ’a) kepadaNya.” (Al A’raf: 29) “Berdo’alah kepada Rabb kalian dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut. ” (Al Jin: 18)
2. Do’a adalah ibadah Bukankah kita semua telah mengetahui bahwa tujuan Allah
menciptakan manusia dan jin ini hanyalah untuk beribadah kepada-Nya? Sehingga
barangsiapa yang memperbanyak do ’a berarti ia telah memperbanyak ibadah
kepada-Nya , dan inilah yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah .
Sebagaimana firmanNya: “Tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia melainkan
hanya untuk beribadah kepadaKu. ” (Adz Dzariat: 56)
Rasulullah Shallallahu‘ alaihi wa sallam bersabda : “Tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia di hadapan Allah subhanahu daripada do ’a.” (At Tirmidzi)
3. Do’a merupakanpembuka pintu-pintu rahmat dari Allah Rasulullah Shallallahu
‘ alaihi wa sallam bersabda :“Barangsiapa diantara kalian yang dibukakan
baginya pintu do ’a, niscaya ia akan dibukakan baginya pintu-pintu rahmat.
Dan tidaklah Allah dimintai sesuatu yang lebih Allah cintai dari meminta keselamatan
(di dunia dan akhirat). Sesungguhnya do ’a itu bermanfaat pada hal- hal yang sudah terjadi ataupun yang belum terjadi, maka hendaklah berdo ’a wahai hamba-hamba
Allah. ” (At-Tirmidzi)
4. Do’a merupakan akhlaq orang-orang yang bertaqwa. Allah Berfirman : “Sesungguhnya
mereka (para nabi) selalu segera melakukan kebaikan dan selalu berdo ’a kepada Kami dalam keadaan penuh harap dan rasa takut, dan mereka adalah orang- orang yang
khusyu ’ (di dalam beribadah/berdo’a kepada Kami).” (Al Anbiya’: 90)
5. Do’a menunjukkan kemurnian tawakkal kepada Allah . Allah Berfirman : “Maka beribadahlah kalian kepada Allah dan bertawakkallah kepada-Nya. ” (Hud: 123)
Di dalam ayat yang mulia ini Allah memerintahkan untuk bertawakkal setelah
beribadah kepada- Nya . Padahal kita telah tahu bahwa do’a itu adalah ibadah,
sebagaimana penjelasan di atas. Sehingga ayat tersebut dapat diambil kesimpulan yaitu
berdo’alah kepada Allah terlebih dahulu, baru kemudian bertawakkallah kepada-Nya.
6. Setiap do’a mendapat jaminan dari Allah selama tidak tergesa-gesa.
Rasulullah Shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang
muslim berdo’a dengan sesuatu yang bukan untuk suatu dosa atau memutuskan
silaturrahmi melainkan pasti Allah akan memberikan salah satu dari tiga hal;
disegerakan baginya pengabulannya, disimpan baginya di akhirat, atau dihindarkan darinya keburukan yang semisal dengannya. ” (Shahih Al Adabul Mufrad no. 547, dari sahabat Abu Sa ’id Al Khudri ) hadits di atas menunjukkan bahwa do ’a seorang muslim
tidaklah sia-sia. Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “ Setiap orang yang
berdo’a akan dikabulkan, hanya saja pengabulan itu berbeda-beda. Terkadang dikabulkan
sesuai dengan permintaan, terkadang pula diganti dengan sesuatu yang lain.
(Fathul Bari 10/95) Sehingga do ’a itu bisa jadi dikabulkan sesuai dengan
permohonannya, bisa jadi pula disimpan atau diganti yang lainnya sebagai bentuk kemurahan dari Allah , selama ia tidak tergesa-gesa. Karena sifat tergesa Allah memiliki sifat Yang Maha Hikmah. Dia mengetahui apa yang terbaik bagi hambanya, berbeda dengan manusia yang tidak mengetahui akibat urusannya. Terkadang manusia
mencintai dan menginginkan sesuatu, padahal hal itu bisa menambah keburukan
baginya, atau sebaliknya. Sebagaimana yang telah diterangkan di dalam firman Allah
(artinya): “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu adalah amat baik bagi kalian, bisa jadi pula kalian menyukai sesuatu padahal itu adalah amat buruk bagi
kalian. Allah yang mengatahui, sedangkan kalian tidak mengetahuinya. ” (Al
Baqarah: 216) Bukan berarti tidak dikabulkannya do ’a menunjukkan jeleknya
orang yang berdo ’a secara mutlak. Dan dikabulkannya do ’a juga tidak menunjukkan baiknya orang yang berdo ’a secara mutlak. Bukankah Allah mengabulkan permintaan iblis dengan memberi tangguh sampai hari kiamat? Tetapi itu tidak menunjukan
pemulian kepada iblis, justru itu sebagai penghinaan kepadanya agar dosanya bertambah, sehingga semakin eras siksaan dan semakin berlipat ganda kesengsaraan
di akhirat nanti. . Jangan sampai kita lalai berdoa kepada Allah Sahabat begitu
tingginya kedudukan dan keutamaan do ’a di sisi Allah , Tapi adalah suatu kerugian besar yang akan dialami oleh orang-orang yang cenderung mengabaikan dan
melalaikan dari berdo ’a kepada Allah, yaitu
1. Enggan dan lalai dari do’a tanda kesombongan pada dirinya Simak dan perhatikanlah firman Allah (artinya): “Dan Rabb kalian telah berfirman: “Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian,sesungguhnya orang- orang yang menyombongkan dirinya dari beribadah (berdo ’a) kepada-Ku akan masuk jahannam
dalam keadaan hina. ” (Ghafir: 60) Di dalam ayat yang mulia ini Allah juga menjelaskan bahwa do ’a itu pada hakekatnya adalah ibadah, sehingga mengabaikan dan
malalaikan dari berdo ’a kepada-Nya merupakan tanda kesombongan pada dirinya karena ia tidak mau berdo ’a kepada penciptanya dan pencipta seluruh alam semesta, pemberi
rezki seluruh makhluk, yang menghidupkan dan yang mematikan, Dia-lah Allah Yang
Maha Kaya dan Maha Kuasa atas segala sesuatu
2. Enggan dan lalai dari berdo’a kepada Allah tanda kelemahan pada dirinya.
Rasulullah Shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda: “Manusia yang paling
lemah adalah orang yang paling lemah dalam berdo ’a dan manusia yang paling
kikir adalah orang yang kikir dalam mengucapkan salam. ” (Ibnu Hibban,
lihat Ash Shahihah no. 154)
3. Enggan dan lalai dari do’a akan mendapatkan murka dari Allah . Rasulullah Shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak mau berdo’a
(dalam riwayat lain: tidak mau meminta) kepada Allah subahanahu, niscaya
Allah memurkainya. ” (At Tirmidzi no. 3372, Ibnu Majah no. 3827 dari sahabat Abu Hurairah , lihat Ash Shahihah no. 3654) Kedua hadits di atas juga menguatkan bahwa orang yang enggan dan lalai dari berdo ’a merupakan tanda kesombongan pada dirinya, karena tidak menyadari dirinya adalah makhluk yang lemah. Sehingga sangat
pantas Allah murka kepada orang-orang yang enggan dan lalai dari berdo ’a kepada-
Nya . Waallhu a’lam bish- showwab. Sahabat... Rahasia dan hakekat tawakkal kepada Allah adalah menyandarkan hati sepenuhnya kepada Allah . Manakala ia berdo ’a
dengan penuh harap dan rasa takut hanya kepada Allah menunjukkan
kemurnian tawakkalnya kepada- Nya. Dan sekaligus do ’a itu sendiri merupakan salah satu sebab terbesar tercapainya apa yang ia inginkan Do’a juga merupakan pembuka pintu-pintu ahmat Allah yang angat didambakan oleh setiap hamba.
Karena dengan rahmat-Nyalah kita mendapat hidayah Islam dan Iman, serta mendapat pula
maghfirah (ampunan) dari dosa-dosa yang telah kita lakukan. Sahabat.. Berdo’a kepada Allah merupakan perkara yang amat dicintai- Nya . Bahkan bila semakin kita sering
berdo ’a kepada-Nya untuk meminta segala sesuatu yang kita inginkan, semakin
menambah kecintaan Allah kepada kita. Insya Allah... Semoga bermanfaat....
(Dari berbagai sumber) Jakarta, 10 Juli 2010 Love you All Cause of Allah

Read More...

Thursday, July 8, 2010

DAHSYATNYA SANG JAHANNAM

“Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi Neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah SWT). Mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah SWT). Mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah SWT). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(QS. Al-A’raaf: 179)


Neraka Jahannam adalah tempat paling dahsyat dan mengerikan yang diciptakan secara khusus oleh Allah SWT. Neraka Jahannam laksana penjara super raksasa bagi orang-orang yang menganggap remeh berita tentang pengadilan akhirat. Di alam akhirat, tempat itu kelak disediakan bagi manusia yang durhaka kepada syariat Allah SWT, mengingkari Rasulullah SAW, senang bermaksiat, gemar melakukan dosa, dan orang yang bersikap sombong. Mereka mengakui bahwa ketika di dunia tidak mau mendengar dan tidak berpikir. Padahal, pendengaran dan berpikir ialah landasan ilmu, dan dengan keduanya ilmu bisa didapatkan.

Para ulama terkemuka mensinyalir, letak tempat yang menjadi lambang kehinaan dan kerugianterbesar
tiada taranya itu berada di dasar bumi yang ketujuh. Untuk mengetahui luas dan
besarnya, berikut ini keterangan dari sebuah hadis Qudsi. Hadis Qudsi ialah hadis yang disampaikan Rasulullah SAW, namun materi atau isinya berasal langsung dari Allah SWT. Neraka Jahannam mempunyai 7 tingkat. Setiap tingkat memiliki 70.000 daerah. Setiap daerah meliputi 70.000 kampung. Setiap kampung mencakup 70.000 rumah.

Setiap rumah mempunyai 70.000 bilik. Setiap bilik memiliki 70.000 kotak. Setiap kotak meliputi 70.000 batang pokok zarqum. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70.000 ekor ular. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandung lautan racun yang hitam pekat. Di bawah setiap pokok zarqum juga mempunyai 70.000 rantai. Setiap rantai diseret oleh 70.000 malaikat.

Luas dan besar Neraka Jahannam juga bisa diukur dari besarnya tubuh para penghuninya yang seketika berubah drastis. Gigi geraham penghuninya sebesar Gunung Uhud. Jarak antara kedua pundaknya sama dengan perjalanan 3 hari. Tempat duduknya sejauh Kota Mekkah dan Madinah. Bahkan, seandainya seorang penduduk neraka menangis, maka air matanya yang menetes dapat menjadikan sebuah perahu berlayar di atasnya. Allah SWT pun sudah menggambarkan keadaannya, sebagaimana tertuang dalam ayat-ayat Al-Quran.


Tujuh Pintu yang Berbeda

Neraka Jahannam memiliki tujuh pintu. Tiap-tiap pintu telah ditetapkan bagi golongan yang akan memasuki dan menghuninya. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya Neraka Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” (QS. Al-Hijr: 43-44)

Ketika Malaikat Jibril turun membawa ayat tersebut, Rasulullah SAW memintanya untuk menjelaskan kondisi neraka. Malaikat Jibril menjawab, wahai Nabi Allah, sesungguhnya di dalam neraka ada tujuh pintu. Jarak antara masing-masing pintu sejauh tujuh puluh tahun. Setiap pintu lebih panas dari pintu yang lain. Semua pintunya berdiri kokoh dan akan selalu tertutup rapat, sebelum dimasuki oleh para penghuninya. Malaikat Jibril menyebut ketujuh pintu yang dimaksud.

Pintu pertama bernama Neraka Hawiyah bagi kaum munafik dan kafir. Pintu kedua dikenal Neraka Jahim bagi kaum musyrik yang menyekutukan Allah SWT. Pintu ketiga disebut Neraka Saqar untuk kaum Sabian (penyembah api). Pintu keempat dinamakan Neraka Ladza bagi setan dan para pengikutnya serta penyembah api. Pintu kelima bernama Neraka Huthamah bagi kaum Yahudi. Pintu keenam disebut Neraka Sa’ir bagi kaum kafir.

Tatkala sampai pada penjelasan pintu yang ketujuh, Malaikat Jibril terdiam. Rasulullah SAW memintanya untuk menjelaskan pintu yang ketujuh. Malaikat Jibril menjawab, pintu ini untuk umatmu yang angkuh, yang mati tanpa menyesali dosa-dosanya dan belum mau bertaubat. Namanya pintu Neraka Jahannam. Rasulullah SAW lalu mengangkat kepalanya. Beliau begitu sedih sampai jatuh pingsan. Ketika siuman, beliau berkata, wahai Jibril, sesungguhnya kedatangan engkau telah menyebabkan kesusahanku dua kali lipat. Akankah umatku masuk neraka? Malaikat Jibril tidak menjawab. Rasulullah SAW kemudian mulai menangis.

Setelah kejadian itu, Rasulullah SAW tidak mau berbicara dengan siapapun selama beberapa hari. Rupanya beliau sangat sedih. Ketika melaksanakan shalat, beliau menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. Karena tangisannya ini, semua sahabat mendadak ikut menangis. Mereka memberanikan diri bertanya, mengapa engkau begitu berduka, ya Rasulullah? Namun, Rasulullah SAW tidak menjawabnya, walau sepatah kata pun.

Saat itu, Ali bin Abi Thalib sedang pergi melaksanakan satu misi. Maka, para sahabat ramai-ramai pergi menghadap Fatimah Az-Zahra, putri kesayangan Rasulullah SAW. Mereka mendatangi rumahnya. Ketika itu Fatimah sedang mengasah gerinda sambil membaca ayat “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la:17). Para sahabat pun menceritakan keadaan ayahnya (Rasulullah SAW). Setelah mendengar semua itu, Fatimah segera bangkit. Ia lalu mengenakan jubahnya yang memiliki dua belas tambalan yang dijahit dengan daun pohon korma.

Seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Salman Al-Farisi yang hadir bersama orang-orang ini terusik hatinya setelah melihat jubah Fatimah. Spontan ia berkata, sungguh kasihan Fatimah. Putri-putri kaisar dan kisra (penguasa Persia kuno) duduk di atas singgasana emas. Sementara putri Rasulullah SAW ini tidak mempunyai pakaian yang layak untuk dipakai. Fatimah mendengar sendiri ucapan Salman tersebut, namun tidak ditanggapinya dan tidak merasa tersinggung. Fatimah terus melangkahkan kakinya.

Ketika sampai di hadapan Sang Ayah, Fatimah melihat keadaannya begitu menyedihkan. Keadaan para sahabatnya juga tidak berbeda. Fatimah berkata, wahai Ayahanda, Salman Al-Farisi terkejut setelah melihat jubahku yang sudah penuh dengan robekan. Aku bersumpah, demi Tuhan yang telah memilihmu menjadi Nabi. Sejak lima tahun lalu, kami hanya memiliki satu helai pakaian di rumah. Pada waktu siang, kami memberi makan unta-unta. Pada waktu malam, kami beristirahat. Anak-anak kami tidur beralaskan kulit dengan daun-daun kering pohon kurma. Rasulullah SAW kemudian berpaling ke arah Salman dan bertanya, apakah engkau memperhatikan dan mengambil pelajaran?

Fatimah melihat wajah Sang Ayah menjadi pucat. Pipinya terlihat cekung. Kedua matanya sembab, akibat tangisan yang tidak terhenti. Sampai-sampai diketahui, tempat Rasulullah SAW duduk telah menjadi basah dengan banyaknya air mata yang mengalir. Fatimah berkata kepada Ayahnya, semoga hidupku menjadi tebusanmu, mengapa Ayahanda menangis?

Rasulullah SAW menjawab, ya Fatimah, mengapa aku tidak boleh menangis? Sesungguhnya Malaikat Jibril telah menyampaikan kepadaku sebuah ayat yang menggambarkan kondisi neraka. Neraka mempunyai tujuh pintu. Pintu-pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu celah api. Pada setiap celah, ada tujuh puluh ribu peti mati dari api. Setiap peti berisi tujuh puluh ribu jenis azab.

Setelah mendengar semua ini, Fatimah berseru, sesungguhnya orang yang dimasukkan ke dalam api ini pasti menemui ajal!. Setelah mengatakan ini, Fatimah pingsan. Ketika sadar, Fatimah berkata, wahai yang terbaik dari segala makhluk, siapakah yang patut mendapat azab yang seperti itu? Rasulullah SAW menjawab, umatku yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak memelihara shalat. Azab ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan azab-azab yang lainnya.

Begitu mengetahui hal tersebut, setiap sahabat Rasulullah SAW selalu menangis. Mereka meratap, derita perjalanan alam akhirat sangat jauh, sedangkan perbekalan sangat sedikit. Sementara sebagian sahabat lagi menangis seraya berkata lirih, seandainya ibu kami tidak melahirkan kami, maka kami tidak akan mendengar tentang azab ini. Sahabat bernama Ammar bin Yasir berkata, andaikan aku seekor burung, tentu aku tidak akan ditahan (pada hari kiamat) untuk dihisab.

Sahabat bernama Bilal bin Rabah yang tidak hadir pada kesempatan itu, hari berikutnya datang kepada Salman Al-Farisi. Ia bertanya sebab-sebab duka cita itu. Salman menjawab, celakalah engkau dan aku. Sesungguhnya kita akan mendapat pakaian dari api, sebagai pengganti dari pakaian katun ini. Kita akan diberi makanan dengan pohon zaqqum (pohon beracun di neraka). Saat itu, Bilal tak mampu lagi berkata apapun. Ia benar-benar terdiam. Hanya air matanya yang mengalir di kedua pipinya. Seakan-akan lidahnya kelu.


Pemandangan Neraka Jahannam

Di dalam Neraka Jahannam terdapat pemandangan-pemandangan aneh, yang belum pernah terjadi ditempat manapun. Pertama, sebuah gunung api bernama Shu’uda. Allah SWT memerintahkan orang-orang kafir untuk mendakinya. Mereka menuruti perintah Allah SWT, tanpa berani membantah-Nya. Tetapi, setiap kali mereka meletakkan tangannya di atas gunung itu, maka tangannya langsung meleleh. Ketika diangkat, tangannya kembali utuh seperti semula. Mereka akan menghabiskan waktu selama 70 tahun untuk mendakinya. Untuk menuruninya, mereka juga butuh waktu selama 70 tahun.

Kedua, lembah Al-Ghayy di dasar Jahannam yang dialiri nanah bercampur darah dari para penghuni neraka. Lembah ini disediakan bagi orang-orang yang meremehkan shalat lima waktu dan mengikuti nafsu syahwatnya. Ketiga, lembah Atsam yang berisi ular dan kalajengking. Lembah ini diperuntukkan bagi orang-orang yang berbuat syirik, berzina dan membunuh jiwa lain tanpa hak. Keempat, lembah Maubiqa yang sepenuhnya berisi nanah. Allah SWT menyiapkannya untuk orang-orang yang menyembah berhala.

Kelima, sebuah rumah bernama Al-Falaq. Jika pintunya dibuka, maka seluruh penduduk neraka akan menjerit karena tidak mampu menahan panasnya. Keenam, penjara Bulas, dimana orang-orang yang menyombongkan diri akan digiring seperti semut-semut kecil berbentuk manusia. Mereka diselimuti kobaran api dan terbenam dalam keringat dan nanah yang bercampur darah penduduk neraka.

Selain pemandangan menjijikan di atas, Neraka Jahannam memiliki belenggu. Pertama, Al-Aghlal, yaitu belenggu dari besi membara yang dipasang di leher penduduk neraka. Kedua, Al-Ashfad, yaitu tali api yang sangat kuat, sehingga membuat seseorang tak berdaya sama sekali. Ketiga, As-Salasil, yaitu rantai besi yang panjangnya 70 hasta. Sementara cambuk Neraka Jahannam terbuat dari besi-besi panas.

Seluruh tempat tersebut dijaga oleh para malaikat yang memiliki karakter keras dan kasar. Mereka tidak bisa diajak kompromi, apalagi disuap atau diberi uang. Sosok mereka tegak berdiri menjaga api yang terus menyala-nyala. Perawakannya besar. Ekspresi wajah dan suaranya amat garang. Mereka sangat patuh kepada Allah SWT, dan tidak mungkin membangkang-Nya.

Surat At-Tahrim ayat 6 sudah mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai Allah SWT terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Jumlah malaikat yang ditugaskan oleh Allah SWT untuk menjaga setiap neraka kurang lebih sebanyak sembilan belas. Surat Al-Muddatstsir ayat 26 sampai 30 menggambarkannya demikian: “Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Neraka Saqar adalah pembakar kulit manusia, di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).”

Apakah penduduk Neraka Jahannam tidak makan dan minum? Ternyata mereka tetap membutuhkan makan dan minum. Hanya saja, Allah SWT menyediakannya dalam rupa-rupa yang menyeramkan. Pertama, pohon Zaqqum. Mayangnya seperti kepala setan. Tumbuh di bawah dasar neraka. Setiap orang yang memakannya, maka ususnya akan terburai. Kedua, pohon Dhari, yaitu pohon duri yang sangat keras. Ia tidak dapat menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar. Ia justru menyumbat tenggorokan. Dengan kata lain, ia tidak keluar dan tidak juga masuk ke dalam perut.

Ketiga, Ghislin, yaitu nanah bercampur darah yang keluar dari tubuh penduduk neraka. Keempat, Al-Hamim, yaitu air sangat panas yang akan disuguhkan dengan besi panas yang ujungnya dibengkokkan. Kelima, Al-Ghassaq, yakni air sangat dingin yang berupa nanah kental. Jika setetesnya ditumpahkan di Barat bumi, niscaya penduduk sebelah Timur akan mencium baunya yang sangat busuk.

Keenam, Ash-Shadid, yaitu air nanah bercampur darah. Ini akan membuat wajah peminumnya hangus. Sekaligus membuat seluruh kulit kepala dan rambut mereka mengelupas. Meski begitu, para penduduk neraka tetap memakan dan meminumnya. Sebab, tidak ada pilihan makanan dan minuman lainnya. Sedang pakaian mereka berupa Qathiran atau tembaga yang dilebur api. Perhiasannya besi panas yang melengkung. Adapun tikar dan selimutnya berbentuk potongan-potongan api (Mihad dan Ghawasy). Masing-masing bentuk maupun ukurannya hanya Allah SWT yang tahu.

Manusia dan batu berhala yang dahulu disembah orang-orang musyrik menjadi bahan bakar Neraka Jahannam. Satu waktu Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seseorang mengenai kadar hawa dan suhu panasnya. Rasulullah SAW menjawab, “Api kalian yang ada sekarang ini yang digunakan Bani Adam untuk membakar hanyalah 1/70 dari api Neraka Jahannam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Api Neraka Jahannam telah dinyalakan seribu tahun hingga menjadi merah. Kemudian dibakar lagi selama seribu tahun hingga menjadi putih. Kemudian dibakar lagi selama seribu tahun hingga menjadi legam, seperti malam yang gelap gulita.” (HR Tirmidzi ) Sahabat Umar bin Khaththab mengatakan, seandainya Neraka Jahannam dibuka seukuran hidung lembu di bumi sebelah Timur, dan ada seseorang di belahan bumi bagian Barat, pasti otaknya akan meleleh karena tidak mampu menahan panasnya.

Di antara penyebab hawa dan panas Neraka Jahannam sedemikian memuncak karena tidak berfungsinya 3 unsur pendingin dari panas bagi manusia; air, angin dan naungan untuk berteduh. Air di Neraka Jahannam adalah hamim (air panas yang menggelegak). Anginnya berupa samum (angin yang rasanya amat panas). Sedang naungannya adalah yahmum (naungan berupa potongan-potongan asap hitam yang juga membawa panas).

Di Neraka Jahannam terdapat pula sumur dan jurang. Kedalamannya sebagaimana digambarkan Rasulullah SAW. Seorang sahabat bernama Abu Hurairah bercerita, pada suatu hari kami bersama Rasulullah SAW. Lantas kami mendengar suara benda jatuh. Rasulullah SAW bertanya, tahukah kalian, suara apakah itu? Kami menjawab, Allah SWT dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Rasulullah SAW bersabda, itu adalah suara batu yang dikirim dari Neraka Jahannam sejak 70 tahun yang lalu. Sekarang baru sampai ke dasar neraka.


Beraneka Siksa

Untuk siapakah semua itu diciptakan? Ayat Al-Quran dan hadis Rasulullah SAW sudah menegaskan, para penduduk neraka kelak terdiri dari berbagai golongan. Berikut ini di antara daftar calon penghuninya; orang yang musyrik, kafir, munafik, sombong, pemimpin zalim, koruptor, pezina, homoseks, peminum khamer (minuman keras), pemakai ganja dan narkotika, pemakan riba, pemain judi dan pemakan uangnya, serta pemakan harta anak yatim, tanpa alasan yang benar.

Selain itu, pembunuh orang mukmin tanpa hak, pelaku bunuh diri, orang yang tidak mau berjihad dan tidak mau membantu kaum muslimin yang tertindas maupun diperangi. Orang yang meninggalkan shalat wajib, tidak mau membayar zakat, tidak mau berpuasa wajib, para dayyuts (orang yang membiarkan perbuatan maksiat terjadi di hadapannya), dan anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, termasuk penghuni Neraka Jahannam.

Hukuman atau siksaan yang ditimpakan kepada mereka, tentu masing-masing kadarnya tidaklah sama. Semuanya tergantung dari kesalahan dan besarnya dosa ketika diperbuat selama hidup, setelah terlebih dahulu ditimbang pada hari penghitungan (hisab). Namun, menurut Rasulullah SAW, seringan-ringan siksa adalah seseorang yang memakai terompah (sepasang sandal) yang talinya terbuat dari bara api neraka, sehingga menyebabkan otaknya mendidih. Dia mengira tiada seorang pun yang menerima siksaan lebih dahsyat dari itu. Padahal, dialah orang yang mendapat siksaan paling ringan. (HR. Bukhari dan Muslim).

Al-Quran mengurai berbagai siksaan berat yang terjadi di Neraka Jahannam. Beraneka siksaan ini tentu menunjukkan tingkat kesalahan yang berbeda-beda di antara para penduduk neraka, selain memperlihatkan kekuasaan Allah SWT. Pertama, kepala mereka akan disiram air panas, sehingga melelehkan otak mereka. Begitu pula isi perut dan kulit mereka, sebagaimana disinggung Surat Al-Hajj ayat 19-21:

“Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar. Mereka saling bertengkar mengenai Rabb (Tuhan) mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.”

Kedua, wajah mereka akan diseret di atas bara api, juga dibolak-balik seperti daging bakar. Keterangan ini disebutkan jelas oleh Surat Al-Ahzab ayat 66: “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan ke dalam neraka. Mereka berkata, alangkah baiknya andaikata kami taat kepada Allah SWT dan taat [pula] pada rasul.”

Ketiga, wajah mereka akan dihitamkan seperti tertutup kepingan malam yang gelap gulita. Surat Yunus ayat 27 menuturkan: “Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan, (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang perlindungan pun dari (azab) Allah SWT. Seakan-akan muka mereka ditutup dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”

Keempat, mereka dikepung api dari segala penjuru, sebagaimana dikemukakan Surat Al-Kahfi ayat 29: “Sesungguhnya telah Kami sediakan bagi orang-orang yang zalim itu neraka yang gejolak apinya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk, dan tempat istirahat yang paling jelek.” Surat Al-Ankabut ayat 55 dan Surat Az-Zumar ayat 16 juga menyinggung hal yang tidak berbeda.

Kelima, api membakar hati, sehingga dari hati mereka keluar api. Isi perutnya akan terburai dan terpencar. Siksaan ini bagi penyembah berhala. Bagi orang yang bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari tempat yang tinggi, ia akan mendapat siksa terjun dari atas neraka. Surat Ali Imran ayat 193 menegaskan: “Ya Tuhanku, sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sesungguhnya telah Engkau hinakan ia. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun.”

Perlu diketahui, penduduk neraka selamanya tidak pernah mati. Siksaan pedihnya pun tidak pernah berhenti walau sedetik, kecuali ada kebijakan khusus dari Allah SWT. Akibat hukuman yang terus-menerus, wajah mereka cacat dan terbakar. Setiap kulit mereka matang karena terbakar, maka Allah SWT akan mengganti kulit yang baru. Begitulah seterusnya. Penduduk neraka juga akan mengeluarkan bau yang sangat busuk dari sekujur tubuhnya.

Gema Neraka Jahannam

Suara Neraka Jahannam sangat mengerikan dan menggelegak. Kitab Bidayatul Hidayah menulis, gema nyala apinya dapat didengar sejauh 500 tahun perjalanan.Siapapun yang mendengarnya akan dibuat
merinding, termasuk para malaikat yang bertugas di dalamnya, meski mereka telah mendapat perlindungan dari Allah SWT. Tak pelak para penghuninya merintih, menjerit serta melolong seperti keledai yang meringkik keras.

Para penghuni neraka akan menangis sampai air matanya habis. Sehingga, yang keluar dari matanya berupa darah, bukan air mata lagi. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai manusia sekalian, menangislah! Jika tidak dapat menangis, maka paksakan dirimu untuk menangis! Karena sesungguhnya ahli neraka itu akan terus menangis hingga air matanya mengalir di pipi masing-masing, seperti air yang mengalir di sungai. Sampai air mata itu habis dan matanya pun pecah-pecah. Seandainya ada perahu yang diletakkan di situ, niscaya berlayarlah ia.” (HR Ibnu Majah)

Mereka sangat memohon agar dapat dikeluarkan dari siksa neraka. Mereka benar-benar sudah tidak tahan. Rasa putus asa, bahkan frustasi sudah mencapai puncaknya. Mereka berjanji akan beramal shalih, jika dikembalikan ke alam dunia. Namun, harapan mereka kosong, jelas tak berarti. Doanya pun sia-sia. Keinginannya sebatas di lidah. Para malaikat penjaga berkata, sesungguhnya kalian akan tetap berada di neraka ini.

Para penduduk neraka merasa iri dengan apa yang Allah SWT telah berikan kepada penduduk surga. Penghuni surga mendapatkan bonus besar berupa makanan, minuman dan fasilitias lainnya yang sangat mewah, nikmat dan lezat. Semuanya gratis, tidak perlu beli. Para penghuni neraka merengek-rengek. Mereka berkhayal, sekiranya di antara penduduk surga ada yang mau memberikan sedikit saja makanan dan minumannya kepada mereka, alangkah senangnya mereka.

Sebetulnya di antara penduduk surga ada yang melihatnya dan merasa iba, hingga hampir-hampir memberikan barang-barang miliknya. Namun, Allah SWT segera mengharamkan makanan dan minuman itu bagi penduduk neraka. Surat Al-A’raf ayat 44 mengabadikan suasana tersebut:

“Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Rabb janjikan kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Rabb kamu menjanjikannya (kepadamu)”. Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah SWT ditimpakan kepada orang-orang yang zalim”.

Penjelasan tersebut disambung dengan makna Surat Al-A’raf ayat 50: “Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah SWT kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah SWT telah mengharamkan keduanya di atas orang-orang kafir.” Demikianlah keadaan proses penyiksaan manusia di Neraka Jahannam yang luar biasa mengerikan. Tidak ada seorang pun yang bisa membantu maupun menolongnya, kecuali atas izin-Nya.

Air Mata Pemadam Api Neraka

Pada waktunya Allah SWT akan memberikan perintah kepada para malaikat untuk mengeluarkan para penghuni neraka yang patut mendapat rahmat-Nya. Mereka adalah orang yang tidak pernah menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun selama hidup di dunia. Mereka mengatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah SWT.

Para malaikat segera mengenali mereka melalui tanda bekas sujud yang ada pada keningnya. Hanya bekas sujudlah bagian tubuh manusia yang tidak akan hangus dibakar api neraka. Sebab, Allah SWT telah berjanji mengharamkan api neraka untuk tidak membakar dan menghanguskannya.

Para malaikat segera mengeluarkan mereka dalam keadaan yang sudah hangus. Tubuh mereka lalu disiram air kehidupan atau air pemulihan. Akhirnya mereka tumbuh dan pulih kembali seperti sediakala, laksana tumbuhnya biji-bijian setelah terjadi banjir besar, dimana mereka tumbuh dalam keadaan masih muda dan besar. Allah SWT selanjutnya memasukan mereka ke surga, setelah melewati proses pengadilan yang sangat ketat dan menegangkan.

Para nabi dan rasul memang sudah dijamin oleh Allah SWT langsung masuk surga, tanpa mampir dulu di neraka. Para sahabat nabi, tabi’in, tabi’it tabi’in, ulama, dan orang shalih, sayangnya belum tentu nasib mereka sama seperti nabi dan rasul. Apalagi umat Islam secara keseluruhan. Sebab, semua itu rahasia dan hak mutlak Allah SWT. Tetapi, setiap umat Islam sebetulnya bisa seperti para nabi dan rasul. Syaratnya cuma satu, yakni meninggal dunia dalam keadaan tidak punya dosa apapun. Kalau pun hanya membawa dosa sedikit, maka harus bisa ditutupi dengan amalan pahala yang sangat banyak.

Selain itu, Rasulullah SAW bersabda, tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah SWT, sehingga ada air susu kembali ke tempat asalnya. Dalam kitab Daqa’iqul Akhbar diceritakan, kelak akan didatangkan seorang hamba pada hari kiamat. Timbangan kejahatannya sangatlah berat. Ia telah diperintahkan untuk dimasukkan ke dalam neraka. Tiba-tiba salah satu rambut matanya berkata, “Wahai Tuhanku, Rasul Engkau Nabi Muhammad SAW telah bersabda, siapa yang menangis lantaran takut kepada Allah SWT, maka Allah SWT mengharamkan matanya itu ke neraka. Sesungguhnya aku menangis karena amat takut kepada-Mu.”



Allah SWT lantas memutar kembali jejak rekam kehidupan orang itu. Singkat cerita, akhirnya Allah SWT bersedia mengampuni hamba itu dan menyelamatkannya dari api neraka berkat sehelai rambut yang pernah menangis sebab benar-benar takut kepada Allah SWT. Malaikat Jibril kemudian diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengumumkan bahwa telah selamat dari siksa neraka seorang Fulan bin Fulan sebab sehelai rambutnya.

Untuk itu, Rasulullah SAW dan para ulama mengajarkan, sikap atau posisi kita yang terbaik saat ini haruslah berada antara dua perasaan, yaitu khauf (takut) dan raja’ (harapan). Maksudnya, takut atas ancaman masuk neraka karena banyak dosa. Sementara harapan akan mendapatkan ampunan dan kasih sayang Allah SWT. Keseimbangan di antara keduanya akan melahirkan iman yang kuat dan rasa cinta yang mendalam kepada Allah SWT.

Sebaliknya, jika hanya takut saja, nanti akan menjadikan kita selalu berputus asa. Bila hanya harapan saja, bisa-bisa kecewa di akhirat dan di dunia ini tidak pernah takut dosa. Bagaimanapun, geliat kehidupan kita di dunia ini kelak akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT. Mudah-mudahan kisah dan gambaran tersebut membuat kita dan keluarga sadar serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga kelak kita semua dibebaskan oleh Allah SWT dari azab Neraka Jahannam, amin.


"Ya Alloh Jauhkanlah Azab Jahannam dari kami karena Seseungguhnya Azabnya membuat kebinasaan yang kekal".

Wallahu a’lam bis showab.

Penulis : Lukman Hakim Zuhdi






Read More...